ayahku, guruku, motivator dalam hidupku



ayahku, guruku, motivator dalam hidupku


Seringkali saya mendapatkan pertanyaan sederhana tetapi harus saya jawab dengan jujur, yaitu siapa di antara para guru yang saya anggap paling mengesankan dan kemudian masih selalu saya ingat. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, biasanya secara spontan, saya jawab bahwa guru yang paling mengesankan itu adalah ayah saya sendiri. Jawaban itu bukan mengada-ada, tetapi memang demikian itulah yang sebenarnya saya rasakan.

Memang dalam sejarah hidup saya, banyak orang yang telah mendidik dan membekali ilmu pengetahuan kepada saya, sejak dari sekolah dasar hingga strata tertinggi di universitas. Sudah barang tentu, jasa mereka itu sangat besar dalam hidup saya dan tidak mungkin saya lupakan. Saya selalu berdoa, semoga budi baik dan jasa yang sedemikian mulia itu diterima oleh Allah swt., dan mereka dimuliakan serta ditinggikan derajadnya.

Saya menyebut ayah sendiri sebagai guru, bahwa maksud saya bukan guru di kelas atau di sekolah, melainkan adalah guru dalam kehidupan sehari-hari. terutama guru ngajiku. beliaulah yang mengajarkan dan mengenalkanku Alif, ba, ta. Ngeja, sampai babalung ( istilah ngaji lancar di desa Jampang Surade ). 
Ayahku ( eyang ), aku menyebutnya eyang karena anak-anakku menyebutnya eyang. beliau mengajariku langsung kitab safinah, jurumiyah, kailani, ianah, tafsir,  itu mulai aku kelas 4 SD.
sepulangku dari Ciamis darussalam aku mulai mengaji mantiq Sullamun nawarok dan disitulah mulai aku mengenal ilmu mantiq dan pendalaman pemikiran Pada setiap saat dan kesempatan, ayah memberikan pengetahuan, wawasan hidup, pengalaman, dan perilaku yang seharusnya saya jalankan. Banyak sekali pelajaran itu yang saya rasakan amat mengesankan, sehingga amat sulit saya lupakan. Di antara pelajaran itu berupa pesan misalnya adalah terkait dengan masjid.

Ayah berpesan harus bersabar, banyak bersyukur. jalani hidup dengan jujur
eyang..






Komentar